Naluri vs Nurani

Saya sering dihadapakan pada kondisi pertarungan antara Naluri dan Nurani. Kelihatannya seperti mudah untuk dihadapi, namun ternyata tidak.
Selalu ada penyesalan di akhir keputusan. Dalam menghadapi kepetusan tersebut, saya selalu memakai Naluri untuk menyelesaikan nya. tapi tak jarang Nurani yang mengambil alih.

Bagi saya Nurani hanya untuk memenuhi kebutuhan kepuasaan belaka. Beda dengan Naluri, ada saja tahapan selanjutnya yang saya harus lakukan setelah memecahkan sebuah masalah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s