Anjing Herder

Sumber dari Harian Pelita, edisi Rabu 22 Februari 2017 oleh Amir Santoso

Anjing herder adalah jenis anjing yang sangat popular sebagai anjing pejaga rumah dan sangat setia kepada tuannya. Karena itu jika ada orang yang sangat setia kepada majikannya, orang itu disebut anjing herder sang majikan. Para pejuang kemerdekaan kerap menyebut para kolaborator penjajah sebagai anjing herder kolonialis. Para anjing inilah uang seringkali lebih kolonial daripada majikannya. Para anjing ini bukan hanya menggonggong apabila tuannya digangu tapi bahkan membunuh musuh tuannya. Sebab itu para anjing herder disayangi tapi diktakuti sekaligus dibenci. Kisah-kisah perjuangan kemerdekaan, penuh dengan cerita tentang pengkhianatan para anjing itu dan juga kisah bagaimana para pejuang menghakimi para anjing yang diatankap. Kisah seperti itu biasanya menyeramkan karena pengkhianatanĀ  para anjing itu luarbiasa licik, tapi prnghakiman terhadap mereka oleh pejuang kemerdekaan juga sangat sadis.

Dewasa ini sebutan anjing herder meluas lagi. Konteksnya bukan lagi antara penjajah dengan anak negeri, melainkan memiliki kekuasaan baik kekuasaan politik maupun ekonomi. Memang kita saksikan biasanya begitu satu pihak memeganng kekuasaan politk dan bisa melalui pemilu atau cara lain, maka pihak lain yang sebelumnya menyatakan menjadi oposisi secara cepat atau lambat akan menjadi anjing pendukung penguasa. Tujuannya hanyalah agar mereka itu akan memberikan kue ekonomi. Apakah tujuan mereka itu akan memberikan manfaat kepada rakyat, bangsa dan negara tidaklah mereka hiraukan. Tidak ada dalam pikiran mereka akan kepentingan bangsa dan negara. Dalam pikiran mereka rakyat hanya dibutuhkan saat pemilu. Usai pemilu, rakyat akan dilupakan.

Nah, pihak-pihak yang merapat ke pangkuan penguasa dan saling berebut tulang itulah yang oleh publik disebut anjing herder penguasa. Para anjing ini sering lebih galak daripada tuannya. Sebab anjing itu berkepentingan agar penguasa tidak membuangnya. Dalam pikiran para anjing itu, penguasa akan berlangsung terus sepanjang masa sehingga mereka merasa sangat perlu untuk menjadi budaknya. Mereka lupa bahwa penguasa di jaman demokrasi ini masa jabatanya terbatas lima tahun atau paling lama sepuluh tahun. Namun dasar watak anjing, begitu penguasa berganti, berubah pula yang disosornya. Malahan tuanya yang lama bisa digigitnya apabila mencoba menghalangi kepentingannya.

Perilaku anjing herder seperti itu sangat memuakkan. Lidahnya menjulur kemana-mana mencari tulang-tulang buangan penguasa. Harga dirinya sudah musnah digantikan hasrat duniawinya yang berkobar-kobar. Mereka lupa bahwa dunia yang mereka kejar sifatnya fana, tidak abadi dan jika meraeka mati duniannya akan ditinggalkan. Celakannya matinya anjing herder imitasi ini seringkali tidak khusnul khotimah, kalah dengan cara mati anjing herder beneran. Malah juga kalah terhormat dengan cara mati anjing buduk sekalipun. Para anjing ini sesungguhnya adalah para pecundang karena mereka mengganti prinsip hidup dan agamanya demi dunia. Mereka tidak segan menghantam kehormatan suku, bangsa, negara dan agamannya demi menjilat penguasa. Kita yang bukan anjing herder ini berdoa semoga selalu diberi tuntunan oleh Allah SWT agar senantiasa mampu menjaga marwah kehormatan diri dan martabat keluarga serta bangsa dan negara. Dunia akan berakhir tapi akhirat akan abadi dan disanalah kita semua akan berlabuh.

Semoga kita semua yang bukan anjing in diberi akhir yag khusnul khotimah, amin yra.